Selamat Datang Diwebsite Pengadilan Agama Kotabumi

Kami berharap semoga dengan adanya website ini bisa memberi dampak positif di masyarakat untuk memberikan akses bagi para pencari keadilan.
Selamat Datang Diwebsite Pengadilan Agama Kotabumi

Pengadilan Agama Kotabumi

Template website pengadilan yang sudah memenuhi standar SKMA 1-144/2011 Mengenai Keterbukaan Informasi Publik. Selain itu website yang menggunakan template ini dapat diakses oleh masyarakat yang difable.
Pengadilan Agama Kotabumi

Delapan Area Perubahan

Reformasi birokrasi yang dilakukan Mahkamah Agung dan Badan peradilan yang berada di bawahnya bukan lagi sekedar tuntutan dari segenap elemen masyarakat dalam mencari keadilan. Harapan yang diinginkan adalah agar birokrasi dan terutama aparatur dapat berkualitas lebih baik lagi. Reformasi birokrasi kini benar-benar menjadi kebutuhan bagi para aparatur pemerintahan
Delapan Area Perubahan

Aplikasi SIPP

Aplikasi Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP), merupakan aplikasi administrasi dan penyediaan informasi perkara baik untuk pihak internal pengadilan, maupun pihak eksternal pengadilan. Pengunjung dapat melakukan penelusuran data perkara (jadwal sidang sampai dengan putusan) melalui aplikasi ini.
Aplikasi SIPP

Aplikasi Info Perkara

Aplikasi sebagai penyediaan informasi perkara baik untuk pihak internal maupun pihak eksternal pengadilan. Pengunjung dapat menelusuri data perkara (daftar perkara sampai dengan putusan) melalui aplikasi ini. Aplikasi ini dibangun oleh Admin Pengadilan Agama Kotabumi
Aplikasi Info Perkara

Aplikasi SIWAS

SIWAS adalah aplikasi pengaduan yang disediakan oleh Badan Pengawasan Mahkamah Agung Republik Indonesia. SIWAS ditujukan untuk Anda yang memiliki informasi dan ingin melaporkan suatu perbuatan berindikasi pelanggaran yang terjadi di lingkungan Mahkamah Agung Republik Indonesia atau Peradilan di bawahnya.
Aplikasi SIWAS
                             

Pojok Pak Dirjen : Tidak Sempat Menikmati Indahnya Kota Istanbul | (5/2/2012)

Pertengahan tahun 2009, Bu Cate –panggilan akrab saya kepada Cate Sumner, peneliti dan aktifis LSM dari Australia itu- memberitahu saya bahwa November tahun itu, di Turki, akan ada Konferensi Internasional ke4 yang diselenggarakan oleh International Association for Court Administration (IACA). Bu Cate ngajak saya untuk mempresentasikan bersama tentang peradilan agama.

Tentu saja, saya sambut dengan kedua tangan sangat terbuka.  Bagaimana tidak, tiket pesawat dan transport lokal, hotel dan juga biaya harian akan ditanggung sponsor, dalam hal ini Indonesia-Australia Legal Development Facility (IA LDF). Forumnyapun sangat terhormat dan bergengsi, Konferensi Internasional Asosiasi Administrasi Peradilan Se Dunia, IACA. Tempat penyelenggaraannya pun adalah negara yang mempunyai peninggalan dan seribu cerita tentang sejarah peradaban Islam. Rugi rasanya kalau saya tidak memenuhi ajakan itu.

Suruh bayar (kantor) sendiri saja mau, apalagi ini dibayari. Namun, terlepas dari itu semua, yang lebih penting bagi saya adalah karena saya diminta untuk bicara tentang peradilan agama di depan komunitas peradilan seluruh dunia. Bukankah ini kesempatan emas, untuk mempromosikan institusi yang saya cintai, Mahkamah Agung dan Peradilan Agama? Kata saya dalam hati. “Iya Bu Cate, saya siap”, saya langsung menjawabnya, walau belum tahu persis tanggal berapa, tema konferensi itu apa, dan aspek apa dari peradilan agama yang harus saya sampaikan.  Pokoknya siap, saya mantap.

**

Dalam perkembangan selanjutnya, diketahuilah bahwa Konferensi Internasional itu diselenggarakan tanggal 2-4 November, di Istanbul, dengan tema ““Worldwide Innovations in Court Systems” dan beberapa sub tema.

Dari Indonesia diundang  2 (dua) pembicara, yaitu Ketua Mahkamah Agung yang diwakili oleh Tuada Pembinaan, Pak Widayatno, yang menyampaikan makalah tentang “Judicial Reform in Indonesia”, sesuai tema utama, dan saya yang mewakili Badilag, menyampaikan aspek yang berhubungan dengan sub tema, “Access to Justice”

Dalam presentasi, saya berkolaborasi dengan Bu Cate, membawakan topik ““Access to Justice  for Poor People in Family Law and Birth Certificate Cases”.  Bu Cate menampilkan “Survey Findings” yang telah dilaksanakan tahun 2007 dan 2009 tentang kepuasan pengguna pengadilan pada lingkungan peradilan umum dan peradilan agama, sedangkan saya  mengemukakan tentang “Strategic Responses”nya yang telah dan akan dilakukan oleh Badilag.

Panel dalam sub tema “Access to Justice”  yang dimoderatori oleh Leisha Lister, Executive Advisor  to CEO Family Court of Australia, ini menampilkan 3 pembicara, yaitu Bu Cate, saya dan Waleed Haider Malik dari perwakilan World Bank Latin American and Caribbean Region, yang aslinya berasal dari  Pakistan.

Panel itu  menghabiskan waktu hampir 2 jam. Pertanyaan, komentar dan masukan banyak diberikan oleh para peserta, yang mengarah kepada adanya peningkatan kemudahan akses ke pengadilan, bagi para pencari keadilan, terutama bagi orang-orang  miskin.

Saya puas dan senang sekali mengikuti konferensi itu, sebab di samping mendapat wawasan penyelenggaraan peradilan atau hal lain berkaitan dengan keperadilanan di negara lain, saya juga banyak dikenalkan dan bergaul dengan tokoh-tokoh administrasi peradilan se dunia.

Di antara tokoh yang terus melakukan komunikasi, bahkan dua kali berkunjung ke Badilag, adalah salah satu pendiri dan presiden IACA pertama, yaitu Markus Zimmer, dari Amerika Serikat.  Selain ke Badilag, dia pernah berkunjung pula  ke PA Jakarta Utara dan PA Balikpapan melihat pemanfaatan Teknologi Informasi. Di Badilag, dia pernah menjadi pembicara pada acara English Meeting Club. Dia sangat terkesan dengan perkembangan peradilan agama belakangan ini.

Yang paling menyenangkan dari konferensi itu adalah diperkenalkannya peradilan agama oleh Cate Sumner yang nota bene bukan orang Indonesia, melalui presentasinya, juga dapat diinformasikan kegiatan-kegiatan berkaitan dengan sub tema, Access to Justice, yang lalu dikomentari oleh para peserta konferensi.

Saya juga senang sekali bisa memperkenalkan peradilan agama dan Mahkamah Agung secara umum kepada masyarakat peradilan se dunia.  Bahkan program-program Badilag yang menjadi trends dunia, seperti program prodeo dan sidang keliling, yang pro rakyat kecil dan terpinggirkan, dapat saya sampaikan kepada mereka.

Saya betul-betul merasa sebagai  pemilik peradilan agama dan saya bangga milik saya itu dibicarakan orang di konferensi yang dihadiri oleh sekitar 200 orang dari seluruh dunia.

***

Memang, saya sangat salut dan apresisasi kepada Bu Cate. Begitu besar, semangat dan  perhatiannya kepada peradilan agama. Nampaknya, inisiatif dan langkah Bu Catelah, peradilan agama bisa diperkenalkan pada forum IACA di Istanbul itu.

Sebetulnya, ketika saya menyatakan siap mengikuti konferensi, saya belum tahu persis tanggal berapanya. Namun ketika diberitahu kepastiannya, tanggal 2-4 November, saya sangat kaget, sebab acara saya, ngunduh mantu pernikahan anak saya yang pertama adalah juga tanggal 2 November. Jadi, bersamaan waktunya.

Saya bingung.  Di satu sisi,saya ingin membatalkan menghadiri konferensi, sebab tidak mungkin harus meninggalkan acara pesta pernikahan anak pertama saya. Namun di sisi lain, saya merasa ini kesempatan emas untuk mempublikasikan peradilan agama. Saya ingin sekali menghadirinya.

Akhirnya saya ceriterakan kepada Bu Cate. Dia memang banyak akal. Dia bicara pada saya, “Please Pak Wahyu, Bapak harus hadir di Istanbul, walau hanya untuk presentasi pada jadwal Bapak saja. Setelah itu Pak Wahyu dapat segera pulang  kembali ke Indonesia, tanpa mengikuti acara pembukaan, jadwal lainnya atau acara penutupan”,  begitulah kira-kira yang disampaikan Bu Cate.

Memangnya dekat Istanbul itu, kok Bu Cate menyarankan seperti itu?, tanya saya dalam hati. Saya memang pernah sekali berkunjung ke sana.  Lalu saya hitung-hitung, Jakarta-Dubai 8 jam, lalu transit, lalu berangkat lagi ke Istanbul sekitar 3-4 jam. Ya, saya mantap. Saya jawab Bu Cate dengan penuh keyakinan, “It’s okey, Bu Cate, I am leaving for Turkey soon after the wedding party”. Kedengaran, Bu Cate juga senang.

Pada waktunya, setelah acara ngunduh mantu selesai, saya segera berangkat ke Istanbul. Pak Widayatno, yang mewakili Ketua MA, Hakim Agung Bu Marina Sidabutar dan beberapa kawan lainnya dari Mahkamah Agung dan pengadilan di Jakarta, sudah berangkat duluan, untuk mengikuti acara konferensi sejak awal.

Saya berangkat belakangan, sendirian, dan tiba di Istanbul tanggal 4 pagi. Dari bandara langsung ke hotel, yang juga sekaligus tempat konferensi. Langsung saya mengikuti acara, lalu presentasi, bermalam satu malam, besoknya langsung pergi lagi ke bandara, dan…terbang lagi, pulang ke Jakarta. Saya harus segera ke Jakarta, sebab masih ada acara keluarga sebagai rangkaian acara pernikahan anak saya yang pertama itu.

Walau tidak sempat menikmati indahnya kota Istanbul dengan selat Bosporusnya yang membelah daratan Asia dan Eropah, yang kiri kanannya dipenuhi bangunan-bangunan kuno dan bersejarah,  tidak sempat berkunjung ke Aya Sofia, museum bekas gereja dan mesjid di zaman keemasan Byzantium dan Turki Usmani, dan tidak sempat menikmati keagungan peninggalan-peninggalan kota Konstantinopel dulu,  yang kini berubah nama menjadi kota Istanbul,  hati ini rasanya plong dan berbunga-bunga.

Meski tidak ke mana-mana, saya masih sempat mengikuti acara konferensi walaupun tidak sepenuhnya. Yang penting,  jadwal untuk presentasi tentang peradilan agama dapat saya hadiri dan berjalan dengan menyenangkan. Banyak pelajaran yang saya peroleh dari panel dan konferensi internasional itu secara keseluruhan. Terima kasih Bu Cate.

Saya sangat bersyukur atas kelancaran dan pelajaran yang saya dapatkan dari Istanbul itu. Walaupun perjalanan saya di sana hanya dari bandara, hotel dan kembali ke bandara lagi untuk pulang ke tanah air, hati ini puas dan senang dapat melaksanakan tugas dengan lancar: mempromosikan peradilan agama kepada para administrator peradilan dari seluruh dunia. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. (WW)

(sumber:http://www.badilag.net/pojok-pak-dirjen/9701-tidak-sempat-menikmati-indahnya-kota-istanbul.html)


Statistik Perkara Diterima dan Diputus

Jadwal Sidang

Pencarian Dokumen Putusan di Direktori Putusan Mahkamah Agung

ColorsPencarian cepat Dokumen Putusan Pengadilan Agama Kotabumi dan Pengadilan Lainnya di Database Direktori Putusan Mahkamah Agung Agung Republik Indonesia

Pencarian Peraturan Perundangan, Kebijakan Peradilan dan Yurisprudensi

Pencarian Peraturan Perundangan, Kebijakan Peradilan dan Yurisprudensi Pencarian cepat data Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Mahkamah Agung Republik Indonesia

 



Ikhlas, Profesional, Responsif & Akuntabel