Beranda

Profil Pengadilan

Transparansi

Layanan Informasi

Link Aplikasi

Arsip

Profil Pengadilan
Sejarah Pengadilan Agama Kotabumi
Pengadilan Agama Kotabumi didirikan beberapa bulan sebelum terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor : 45 tahun 1957 tepatnya tanggal 1 Juli 1957 di Kotabumi oleh DPRD Lampung Utara atas inisiatif tokoh-tokoh masyarakat dan pemuka-pemuka agama setempat.
Image is not available
Putusan Pengadilan Agama Kotabumi
Image is not available
Cara Mudah Telusuri Perkara
Administrasi Pengadilan Berbasis Teknologi Informasi maka peran Aplikasi Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP Versi 3.2.), menjadi semakin penting dan diandalkan untuk proses administrasi dan penyediaan informasi baik untuk pihak internal, maupun pihak eksternal pengadilan.
Image is not available
Sidang Itsbat Nikah Terpadu Akhir Tahun 2017
Pengadilan Agama Kotabumi bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Lampung Utara dan Kementrian Agama Kabupaten
DDTK SIPP untuk Jurusita dan Jurusita Pengganti

Pelayanan Online pada Mahkamah Agung

Informasi publik pada Mahkamah Agung RI yang dapat diakses secara online, seperti : Info Perkara, Direktori Putusan, SIPP, SIADPA, SIADTUN, SIADMIL.

Perkara Diterima Hari Ini

Panggilan Perkara Ghaib

Perkara Belum Ambil PSP

Pertengahan tahun 2009, Bu Cate –panggilan akrab saya kepada Cate Sumner, peneliti dan aktifis LSM dari Australia itu- memberitahu saya bahwa November tahun itu, di Turki, akan ada Konferensi Internasional ke4 yang diselenggarakan oleh International Association for Court Administration (IACA). Bu Cate ngajak saya untuk mempresentasikan bersama tentang peradilan agama.

Tentu saja, saya sambut dengan kedua tangan sangat terbuka.  Bagaimana tidak, tiket pesawat dan transport lokal, hotel dan juga biaya harian akan ditanggung sponsor, dalam hal ini Indonesia-Australia Legal Development Facility (IA LDF). Forumnyapun sangat terhormat dan bergengsi, Konferensi Internasional Asosiasi Administrasi Peradilan Se Dunia, IACA. Tempat penyelenggaraannya pun adalah negara yang mempunyai peninggalan dan seribu cerita tentang sejarah peradaban Islam. Rugi rasanya kalau saya tidak memenuhi ajakan itu.

Suruh bayar (kantor) sendiri saja mau, apalagi ini dibayari. Namun, terlepas dari itu semua, yang lebih penting bagi saya adalah karena saya diminta untuk bicara tentang peradilan agama di depan komunitas peradilan seluruh dunia. Bukankah ini kesempatan emas, untuk mempromosikan institusi yang saya cintai, Mahkamah Agung dan Peradilan Agama? Kata saya dalam hati. “Iya Bu Cate, saya siap”, saya langsung menjawabnya, walau belum tahu persis tanggal berapa, tema konferensi itu apa, dan aspek apa dari peradilan agama yang harus saya sampaikan.  Pokoknya siap, saya mantap.

**

Dalam perkembangan selanjutnya, diketahuilah bahwa Konferensi Internasional itu diselenggarakan tanggal 2-4 November, di Istanbul, dengan tema ““Worldwide Innovations in Court Systems” dan beberapa sub tema.

Dari Indonesia diundang  2 (dua) pembicara, yaitu Ketua Mahkamah Agung yang diwakili oleh Tuada Pembinaan, Pak Widayatno, yang menyampaikan makalah tentang “Judicial Reform in Indonesia”, sesuai tema utama, dan saya yang mewakili Badilag, menyampaikan aspek yang berhubungan dengan sub tema, “Access to Justice”

Dalam presentasi, saya berkolaborasi dengan Bu Cate, membawakan topik ““Access to Justice  for Poor People in Family Law and Birth Certificate Cases”.  Bu Cate menampilkan “Survey Findings” yang telah dilaksanakan tahun 2007 dan 2009 tentang kepuasan pengguna pengadilan pada lingkungan peradilan umum dan peradilan agama, sedangkan saya  mengemukakan tentang “Strategic Responses”nya yang telah dan akan dilakukan oleh Badilag.

Panel dalam sub tema “Access to Justice”  yang dimoderatori oleh Leisha Lister, Executive Advisor  to CEO Family Court of Australia, ini menampilkan 3 pembicara, yaitu Bu Cate, saya dan Waleed Haider Malik dari perwakilan World Bank Latin American and Caribbean Region, yang aslinya berasal dari  Pakistan.

Panel itu  menghabiskan waktu hampir 2 jam. Pertanyaan, komentar dan masukan banyak diberikan oleh para peserta, yang mengarah kepada adanya peningkatan kemudahan akses ke pengadilan, bagi para pencari keadilan, terutama bagi orang-orang  miskin.

Saya puas dan senang sekali mengikuti konferensi itu, sebab di samping mendapat wawasan penyelenggaraan peradilan atau hal lain berkaitan dengan keperadilanan di negara lain, saya juga banyak dikenalkan dan bergaul dengan tokoh-tokoh administrasi peradilan se dunia.

Di antara tokoh yang terus melakukan komunikasi, bahkan dua kali berkunjung ke Badilag, adalah salah satu pendiri dan presiden IACA pertama, yaitu Markus Zimmer, dari Amerika Serikat.  Selain ke Badilag, dia pernah berkunjung pula  ke PA Jakarta Utara dan PA Balikpapan melihat pemanfaatan Teknologi Informasi. Di Badilag, dia pernah menjadi pembicara pada acara English Meeting Club. Dia sangat terkesan dengan perkembangan peradilan agama belakangan ini.

Yang paling menyenangkan dari konferensi itu adalah diperkenalkannya peradilan agama oleh Cate Sumner yang nota bene bukan orang Indonesia, melalui presentasinya, juga dapat diinformasikan kegiatan-kegiatan berkaitan dengan sub tema, Access to Justice, yang lalu dikomentari oleh para peserta konferensi.

Saya juga senang sekali bisa memperkenalkan peradilan agama dan Mahkamah Agung secara umum kepada masyarakat peradilan se dunia.  Bahkan program-program Badilag yang menjadi trends dunia, seperti program prodeo dan sidang keliling, yang pro rakyat kecil dan terpinggirkan, dapat saya sampaikan kepada mereka.

Saya betul-betul merasa sebagai  pemilik peradilan agama dan saya bangga milik saya itu dibicarakan orang di konferensi yang dihadiri oleh sekitar 200 orang dari seluruh dunia.

***

Memang, saya sangat salut dan apresisasi kepada Bu Cate. Begitu besar, semangat dan  perhatiannya kepada peradilan agama. Nampaknya, inisiatif dan langkah Bu Catelah, peradilan agama bisa diperkenalkan pada forum IACA di Istanbul itu.

Sebetulnya, ketika saya menyatakan siap mengikuti konferensi, saya belum tahu persis tanggal berapanya. Namun ketika diberitahu kepastiannya, tanggal 2-4 November, saya sangat kaget, sebab acara saya, ngunduh mantu pernikahan anak saya yang pertama adalah juga tanggal 2 November. Jadi, bersamaan waktunya.

Saya bingung.  Di satu sisi,saya ingin membatalkan menghadiri konferensi, sebab tidak mungkin harus meninggalkan acara pesta pernikahan anak pertama saya. Namun di sisi lain, saya merasa ini kesempatan emas untuk mempublikasikan peradilan agama. Saya ingin sekali menghadirinya.

Akhirnya saya ceriterakan kepada Bu Cate. Dia memang banyak akal. Dia bicara pada saya, “Please Pak Wahyu, Bapak harus hadir di Istanbul, walau hanya untuk presentasi pada jadwal Bapak saja. Setelah itu Pak Wahyu dapat segera pulang  kembali ke Indonesia, tanpa mengikuti acara pembukaan, jadwal lainnya atau acara penutupan”,  begitulah kira-kira yang disampaikan Bu Cate.

Memangnya dekat Istanbul itu, kok Bu Cate menyarankan seperti itu?, tanya saya dalam hati. Saya memang pernah sekali berkunjung ke sana.  Lalu saya hitung-hitung, Jakarta-Dubai 8 jam, lalu transit, lalu berangkat lagi ke Istanbul sekitar 3-4 jam. Ya, saya mantap. Saya jawab Bu Cate dengan penuh keyakinan, “It’s okey, Bu Cate, I am leaving for Turkey soon after the wedding party”. Kedengaran, Bu Cate juga senang.

Pada waktunya, setelah acara ngunduh mantu selesai, saya segera berangkat ke Istanbul. Pak Widayatno, yang mewakili Ketua MA, Hakim Agung Bu Marina Sidabutar dan beberapa kawan lainnya dari Mahkamah Agung dan pengadilan di Jakarta, sudah berangkat duluan, untuk mengikuti acara konferensi sejak awal.

Saya berangkat belakangan, sendirian, dan tiba di Istanbul tanggal 4 pagi. Dari bandara langsung ke hotel, yang juga sekaligus tempat konferensi. Langsung saya mengikuti acara, lalu presentasi, bermalam satu malam, besoknya langsung pergi lagi ke bandara, dan…terbang lagi, pulang ke Jakarta. Saya harus segera ke Jakarta, sebab masih ada acara keluarga sebagai rangkaian acara pernikahan anak saya yang pertama itu.

Walau tidak sempat menikmati indahnya kota Istanbul dengan selat Bosporusnya yang membelah daratan Asia dan Eropah, yang kiri kanannya dipenuhi bangunan-bangunan kuno dan bersejarah,  tidak sempat berkunjung ke Aya Sofia, museum bekas gereja dan mesjid di zaman keemasan Byzantium dan Turki Usmani, dan tidak sempat menikmati keagungan peninggalan-peninggalan kota Konstantinopel dulu,  yang kini berubah nama menjadi kota Istanbul,  hati ini rasanya plong dan berbunga-bunga.

Meski tidak ke mana-mana, saya masih sempat mengikuti acara konferensi walaupun tidak sepenuhnya. Yang penting,  jadwal untuk presentasi tentang peradilan agama dapat saya hadiri dan berjalan dengan menyenangkan. Banyak pelajaran yang saya peroleh dari panel dan konferensi internasional itu secara keseluruhan. Terima kasih Bu Cate.

Saya sangat bersyukur atas kelancaran dan pelajaran yang saya dapatkan dari Istanbul itu. Walaupun perjalanan saya di sana hanya dari bandara, hotel dan kembali ke bandara lagi untuk pulang ke tanah air, hati ini puas dan senang dapat melaksanakan tugas dengan lancar: mempromosikan peradilan agama kepada para administrator peradilan dari seluruh dunia. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. (WW)

(sumber:http://www.badilag.net/pojok-pak-dirjen/9701-tidak-sempat-menikmati-indahnya-kota-istanbul.html)

mahkamah agung badilum dilmitum badilag JDIH MARI Badan Pengawasan MARI
pembaruan putusan asian lii pedoman perilaku hakim Pengaduan Balitbangkumdil Online
PTA Bandar Lampung PA Tanjung Karang PA Metro PA Kalianda PA Gunung Sugih
PA Tanggamus PA Tulang Bawang PA Krui PA Blambangan Umpu