Login
Register

Home

Profil PA

Transparansi

Layanan Informasi

Link Aplikasi

Arsip

Index Berita
images/banner/1.jpg
Perkara Diterima Hari Ini

Panggilan Perkara Ghaib

Perkara Belum Ambil PSP

Di PA Kotabumi, Anak Asuh pun Mendapat Bagian Warisan

 

Penulis (mengenakan kemeja biru) bersama para pihak yang bersengketa setelah melakukan mediasi.

Di tengah anggapan yang berkembang bahwa pelaksanaan mediasi di lingkungan peradilan hanyalah formalitas belaka, penulis ingin berbagi kisah keberhasilan mediasi dalam perkara waris di Pengadilan Agama Kotabumi, Lampung.

Rabu, 25 Januari 2012, penulis ditunjuk sebagai hakim mediator oleh seorang ketua majelis hakim yang memeriksa suatu perkara. Penulis pun segera mempelajari surat gugatan itu. Ternyata itu sengketa warisan.

Dalam surat gugatan itu dijelaskan almarhum Fulan menikah dengan almarhumah Fulanah. Selama menikah almarhum Fulan dan almarhumah Fulanah tidak memiliki anak, namun mereka mengasuh dua orang anak perempuan. Almarhumah Fulanah meninggal terlebih dahulu sebelum almarhum Fulan.

Pada saat almarhumah Fulanah meninggal belum ada pembagian harta warisan. Setelah almarhumah Fulan meninggal dunia, dan meninggalkan harta warisan berupa tanah dan bangunan rumah, para saudara almarhum Fulan menggugat dua orang anak asuh almarhum Fulan yang secara tidak langsung telah menguasai harta warisan almarhum Fulan. Salah satu dari kedua anak asuh itu juga telah menjual sejumlah batang pohon karet yang tumbuh di atas lahan milik almarhum Fulan. Saudara-saudara almarhum Fulan mengajukan gugatan waris dengan menggunakan jasa pengacara dari salah satu perguruan tinggi di Lampung Utara.

Penulis melihat bahwa dalam surat gugatan tersebut ada pihak ahli waris lain yang belum dilibatkan, yaitu saudara dari almarhumah Fulanah, yang berhak mendapatkan bagian warisan dari almarhumah Fulanah. Harta warisan almarhumah Fulanah berupa separoh dari harta bersama antara almarhumah Fulanah dengan almarhum Fulan. Almarhum Fulan mendapat separoh dari harta warisan almarhumah Fulanah, yaitu ¼ harta bersama, sedangkan sisanya (¼ harta bersama) dibagi untuk para saudara almarhumah Fulanah.

Memang, dengan adanya pihak lain yang berkepentingan dalam gugatan tersebut tetapi tidak dilibatkan, maka dapat saja mediasi dinyatakan tidak layak. Namun, penulis memiliki keyakinan bahwa perkara ini dapat diselesaikan melalui mediasi. Kemudian penulis memulai mediasi.

Mengawali mediasi yang dilakukan di mushalla pengadilan Agama Kotabumi—untuk menghindari kesan formal, kaku dan mencari nuansa religius—penulis memperkenalkan diri, kemudian menyapa para pihak yang bersengketa dengan memanggil nama dan menanyakan asal mereka. Selanjutnya penulis menjelaskan tentang kedudukan dan peran penulis sebagai mediator, tenggang waktu pelaksanaan mediasi, dan pentingnya mediasi untuk menyelesaikan sengketa. Penulis juga menjelaskan bahwa betapa penyelesaian sengketa melalui persidangan dapat cukup melelahkan, menghabiskan banyak waktu, pikiran, tenaga, dan biaya.

Pada awalnya, penulis berupaya mengarahkan para pihak yang bersengketa pada satu titik yang dapat menyatukan mereka. Penulis menyampaikan bahwa bagaimanapun seorang yang meninggal itu, yang mati hanya jasadnya, tapi ruhnya tidak, dan bisa jadi jika ruh almarhum pun mengetahui sengketa yang sedang terjadi di antara orang-orang dekat dan dicintainya. Tentu saja, ruh almarhum itu tidak akan berkenan melihat hal ini terjadi. Kedua, sebagai ahli waris, kita harus bersyukur, karena tanpa jerih payah yang berarti dalam memperoleh harta peninggalan almarhum, kita dapat memperoleh rizki secara tiba-tiba, dan sebagai bentuk syukur itu kita jangan sampai bersengketa dalam pembagian harta warisan.

Kemudian, penulis menjelaskan bahwa ada pihak-pihak yang belum dilibatkan dalam perkara tersebut, yaitu saudara dari almarhumah Fulanah. Saudara dari almarhumah Fulanah merupakan ahli waris almarhumah Fulanah, selain almarhum Fulan,  ketika almarhumah Fulanah meninggal dan berhak atas harta warisan almarhumah Fulanah. Pada saat almarhumah Fulanah meninggal, seharusnya ada pembagian harta warisan almarhumah Fulanah antara suami almarhumah Fulanah dengan saudara almarhumah Fulanah, namun hal itu belum dilakukan.

Harta warisan almarhumah Fulanah berupa separoh dari harta bersama antara almarhumah Fulanah dengan almarhum Fulan. Almarhum Fulan mendapat separoh dari harta warisan almarhumah Fulanah, yaitu ¼ harta bersama, sedangkan sisanya (¼ harta bersama) dibagi untuk para saudara almarhumah Fulanah. Dengan demikian secara keseluruhan, perbandingan harta warisan almarhum Fulan dengan almarhumah Fulanah adalah 3 : 1, harta warisan alamarhum Fulan adalah ¾ dari harta bersama untuk dibagi oleh saudara-saudara almarhum Fulan, dan harta warisan almarhumah Fulanah adalah ¼ dari harta bersama untuk dibagi oleh saudara-saudara almarhumah Fulanah.

Nah, kemudian bagaimana dengan kedua anak asuh perempuan almarhum Fulan dengan almarhumah Fulanah? Penulis menjelaskan bahwa secara hukum, memang anak asuh tidak berhak atas harta warisan almarhum Fulan dan almarhumah Fulanah. Namun demikian, penulis meminta kepada ahli waris untuk berempati, yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Penulis meminta kepada ahli waris untuk merasakan apa yang dirasakan oleh almarhum Fulan dan almarhumah Fulanah terhadap kedua anak asuh perempuan mereka, yang diasuh sejak bayi.

Tentu, almarhum Fulan dan almarhumah Fulanah memiliki rasa cinta dan kasih sayang terhadap kedua anak asuh mereka. Selain itu, almarhum Fulan dan almarhumah Fulanah tentu tidak sampai hati melihat kedua anak asuh mereka ditinggalkan begitu saja tanpa diberi harta peninggalan untuk membantu kehidupan mereka. Begitu juga sebaliknya, kedua anak asuh almarhum Fulan dan almarhumah Fulanah juga memiliki kasih sayang dan peran dalam mengurus almarhum Fulan dan almarhumah Fulanah ketika memasuki usia senja, sampai akhirnya meninggal.

Oleh karenanya, penulis meminta kepada ahli waris untuk tidak menutup mata dan memberikan sebagian harta warisan kepada kedua anak asuh tersebut. Ini untuk memenuhi rasa keadilan dan memenuhi nilai kepatutan. Mengenai besarnya, penulis menyerahkan kepada para ahli waris, namun penulis membuat analogi dengan kasus anak angkat. Anak angkat secara hukum berhak mendapat bagian harta warisan maksimal 1/3 dari harta warisan orang tua angkat melalui wasiat wajibah. Secara formal, memang ada beda antara anak asuh dengan anak angkat, tetapi secara kedekatan emosional, kekeluargaan, kasih sayang orang tua terhadap anak, dan sebaliknya tidak ada bedanya.

Karena pada mediasi pertama pihak dari saudara almarhumah Fulanah belum dilibatkan, maka penulis meminta para pihak untuk melibatkan saudara almarhumah Fulanah pada mediasi selanjutnya. Penulis memberikan nomor kontak penulis kepada para pihak untuk mempermudah komunikasi, dalam mengatur jadwal pertemuan selanjutnya, begitu juga para pihak penulis minta untuk saling bertukar nomor kontak. Dalam hal ini, tidak perlu lagi biaya relaas panggilan untuk mediasi, sehingga tidak menambah beban para pihak.

Dalam mediasi kedua, Senin, 13 Februari 2012, para pihak yang bersengketa hadir, dengan menghadirkan perwakilan dari saudara almarhumah Fulanah. Dalam pertemuan tersebut, pihak dari saudara almarhumah Fulanah sempat keberatan jika dalam pembagian harta bersama antara almarhum Fulan dan almarhumah Fulanah masing-masing mendapat separuh bagian. Hal ini, karena menurutnya almarhumah Fulanah lebih berperan dalam memperoleh harta bersama.

Menanggapi keberatan tersebut, penulis menyampaikan bahwa penulis dapat memahami, namun penulis menjelaskan bahwa kedudukan kita ini hanya sebagai ahli waris, yang hanya menerima harta warisan dan tidak banyak berperan dalam memperoleh harta warisan, selain itu kalau kedua pewaris saja tidak mempersoalkan masalah itu, apakah patut bagi kita untuk mengungkit-ungkit masalah tersebut. Tampaknya, mendengar jawaban penulis, pihak saudara almarhumah Fulanah dapat menerima.

Selanjutnya dari seluruh harta warisan almarhum Fulan dan almarhumah Fulanah, para ahli waris sepakat untuk memberikan sebagian harta warisan untuk kedua anak asuh perempuan pewaris. Sementara sisanya, dibagi antara ahli waris almarhum Fulan dengan ahli waris almarhumah Fulanah dengan ketentuan pembagian 3:1, yaitu ¾ untuk ahli waris almarhum Fulan dan ¼ untuk ahli waris almarhumah Fulanah.

Kedua anak asuhpun merasa tidak keberatan dan menerima bagian dari harta warisan yang disepakati oleh para ahli waris serta tidak akan menguasai harta warisan yang bukan menjadi hak mereka. Sementara terkait dengan sejumlah batang pohon karet yang terlanjur ditebang dan dijual oleh salah satu anak asuh, para ahli waris tidak mempersoalkan, tetapi mereka meminta kepada anak asuh untuk tidak menjual batang pohon karet yang belum ditebang dan masih produktif. Permintaan para ahli waris itu pun diterima oleh anak asuh yang telah menjual batang pohon karet, dengan konsekuensi harus mengembalikan uang pembelian atas batang pohon karet yang telah dijual tetapi belum ditebang.

Setelah tercapai kesepakatan, penulis membantu para pihak untuk merumuskan kesepakatan perdamaian, dan para pihak menginginkan agar kesepakatan perdamaian tersebut dikuatkan dalam akta perdamaian. Sebelum sidang kedua, Rabu, tanggal 15 Februari 2012, penulis membacakan kesepakatan perdamaian di hadapan para pihak, setelah semuanya sepakat, kemudian penulis meminta para pihak untuk menandatangani kesepakatan perdamaian, begitu pula penulis sebagai mediator. Untuk mengabadikan momen yang membahagiakan ini, penulis mengajak kepada para pihak untuk berfoto bersama di depan mushalla PA Kotabumi.

Demikianlah sepenggal pengalaman penulis ketika bertugas sebagai mediator. semoga bermanfaat dan mampu menyemangati teman-teman ketika bertugas sebagai mediator.

(Muhammad Isna Wahyudi)

mahkamah agung badilum dilmitum badilag JDIH MARI Badan Pengawasan MARI
pembaruan putusan asian lii pedoman perilaku hakim Pengaduan Balitbangkumdil Online
PTA Bandar Lampung PA Tanjung Karang PA Metro PA Kalianda PA Gunung Sugih
PA Tanggamus PA Tulang Bawang PA Krui PA Blambangan Umpu